6 Kali Negara Tuan Rumah Memenangkan Piala Dunia

Memenangkan Piala Dunia sudah cukup sulit. Melakukan hal ini di dalam negeri, mengingat besarnya harapan suatu negara, masih jarang dilakukan.

Dalam sejarah turnamen ini, hanya enam negara tuan rumah yang berhasil mengangkat trofi di hadapan pendukung mereka sendiri.

Ini adalah sebuah prestasi yang memberi setiap tuan rumah sedikit harapan ekstra, yang merupakan bagian dari mengapa tuan rumah bersama sangat menonjol dalam taruhan & peluang Piala Dunia 2026.

Banyak penggemar yang mengikuti perkembangannya, baik melalui pratinjau atau pertukaran taruhan Piala Dunia, akan mengetahui betapa pentingnya keuntungan sebagai tuan rumah.

Dalam artikel ini, kita melihat kembali enam negara tuan rumah pemenang Piala Dunia.

Tuan Rumah Pemenang Piala Dunia

Uruguay 1930

Piala Dunia pertama, pada tahun 1930, dimenangkan oleh tuan rumah. Uruguay, yang sudah dua kali menjadi juara Olimpiade, mengalahkan tetangganya Argentina 4-2 di final di Montevideo, bermain di depan Estadio Centenario yang penuh sesak.

Ini menjadi acuan bagaimana kemenangan kandang nantinya.

Uruguay tetap menjadi salah satu dari hanya dua negara yang memenangkan Piala Dunia pada debut mereka.

Italia 1934

Empat tahun kemudian, Italia menjadi tuan rumah dua kali berturut-turut. Di bawah naungan rezim Mussolini, Azzurri mengalahkan Cekoslowakia 2-1 setelah perpanjangan waktu di Roma untuk memenangkan gelar pertama mereka.

Itu juga merupakan kemenangan debutnya, karena Italia belum mengikuti turnamen perdananya. Kemenangan tersebut menandai dimulainya periode emas yang akan membawa gelar juara berturut-turut.

Inggris 1966

Satu-satunya kemenangan Inggris di Piala Dunia terjadi di kandang sendiri pada tahun 1966.

Geoff Hurst mencetak hat-trick, satu-satunya di final selama lebih dari 55 tahun sebelum Kylian Mbappe pada tahun 2022, saat tim asuhan Sir Alf Ramsey mengalahkan Jerman Barat 4-2 setelah perpanjangan waktu di Wembley.

Pertandingan tersebut tetap menjadi yang paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris. Bobby Moore mengangkat trofi sebagai kapten.

Jerman Barat 1974

Jerman Barat berjaya di kandang sendiri pada tahun 1974, mengalahkan tim brilian Belanda di final.

Meski tertinggal akibat penalti awal, tuan rumah bangkit untuk menang 2-1 di Munich, dengan Gerd Muller mencetak gol penentu.

Franz Beckenbauer menjadi kapten tim yang mengalahkan tim Belanda asuhan Johan Cruyff yang sangat dikagumi. Itu merupakan gelar juara dunia kedua bagi Jerman Barat.

ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Rekor Piala Dunia FIFA: Tanda Sejarah Mana yang Bisa Jatuh di Turnamen 2026?

Pemandangan umum Piala Dunia FIFA, WM, Weltmeisterschaft, Fussball 2026 di Giants Stadium dari Pusat Pelatihan Diagnostik New York Giants Quest di East Rutherford, New Jersey. CSM East Rutherford Amerika Serikat – ZUMAc04_ 20260609_zma_c04_001 Hak Cipta: xDuncanxWilliamsx

Argentina1978

Argentina memenangkan Piala Dunia pertama mereka sebagai tuan rumah pada tahun 1978, dalam turnamen yang dimainkan dengan latar belakang kekacauan politik di bawah pemerintahan militer.

Mario Kempes, pencetak gol terbanyak turnamen, mencetak dua gol saat Argentina mengalahkan Belanda 3-1 setelah perpanjangan waktu di Buenos Aires.

Belanda kini kalah berturut-turut di final dari negara tuan rumah. Bagi Argentina, ini adalah awal kisah Piala Dunia mereka.

Perancis 1998

Tuan rumah terakhir yang menang adalah Prancis pada tahun 1998. Zinedine Zidane mencetak dua gol dengan sundulannya saat Les Bleus mengalahkan Brasil 3-0 di final di Saint-Denis.

Ini merupakan gelar Piala Dunia pertama bagi Prancis, dan kemenangan tersebut, yang diraih oleh skuad yang beragam dan bersatu, dirayakan di seluruh negeri. Tidak ada tuan rumah yang mengangkat trofi sejak itu.

Enam tuan rumah, yang tersebar selama tujuh dekade terbaik, berhasil menang di kandang sendiri. Prancis pada tahun 1998 adalah negara terakhir yang melakukannya, dan tidak ada tuan rumah yang mampu menandingi pencapaian tersebut di abad ke-21.

Piala Dunia 2026

Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *